Ubi Cilembu Manis dari Lereng Sumedang, Jadi Peluang Baru Warga Borobudur Magelang
Karsidi, saat mengolah ubi Cilembu dengan cara dioven (FOTO: Hermanto/ TIMES Indonesia)

Ubi Cilembu Manis dari Lereng Sumedang, Jadi Peluang Baru Warga Borobudur Magelang

Dari rumahnya di Magelang, Karsidi membangun usaha kuliner sederhana, yang kini mulai dikenal banyak orang.

TIMES Magelang,Jumat 22 Mei 2026, 17:00 WIB
1.1K
H
Hermanto

MAGELANGDi sebuah rumah sederhana di Karangjati, Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, aroma khas ubi Cilembu yang baru keluar dari oven mulai menarik perhatian.

Dari rumah itulah, Karsidi atau yang akrab disapa Pak Kar, perlahan membangun usaha kuliner sederhana, yang kini mulai dikenal banyak orang.

Pria kelahiran Magelang 1986 itu, sebenarnya bukan sosok yang berasal dari dunia kuliner.

Latar belakang pendidikannya justru teknik mesin. Ia merupakan lulusan SMKN 1 Cawang, bahkan menjadi lulusan terbaik kedua di sekolahnya.

Sejak kecil, Pak Kar memiliki cita-cita menjadi seorang insinyur. Inspirasi itu muncul karena ia kagum melihat gelar “Ir.” di depan nama Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Namun jalan hidup membawanya ke arah berbeda. Selama sekitar 12 tahun, Pak Kar bekerja di pabrik manufaktur di kawasan Cikarang.

Setelah memutuskan pulang kampung pada 2017, ia mencoba merintis usaha sablon secara mandiri di Magelang.

“Dulu saya memang ingin jadi insinyur. Karena dulu sering lihat nama Ir. Soekarno, rasanya keren sekali,” ujar Pak Kar sambil mengolah ubi yang ia oven, pada Jumat (22/5/2026).

Daya Tarik Ubi Cilembu

article
Di teras rumahnya, Karsidi menjajakan ubi Cilembu, yang kini mulai banyak diminati oleh berbagai kalangan. (FOTO: Hermanto/ TIMES Indonesia)

Berbeda dengan ubi biasa, ubi Cilembu memiliki tekstur lembut dan rasa manis yang merata hingga ke bagian dalam.

Hal itu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi tanah, kadar air, hingga intensitas cahaya matahari di daerah asalnya.

“Kalau ubi lokal biasanya manisnya cuma di luar saja. Tapi ubi Cilembu ini manisnya sampai dalam,” lanjutnya dengan nada santai.

Untuk menjaga kualitas rasa, Pak Kar mengambil pasokan langsung dari Bandung. Dalam seminggu, sekitar 200 kilogram ubi dikirim ke Magelang melalui jasa pengiriman.

Menurutnya, tantangan terbesar justru menjaga ketersediaan stok, terutama saat musim hujan karena banyak ubi yang mudah busuk.

“Musim hujan biasanya stok menipis. Banyak ubi yang busuk  atau kualitasnya turun karena lembab,” katanya.

Harga ubi Cilembu memang lebih tinggi dibanding ubi biasa. Jika ubi lokal dijual sekitar Rp4 ribu per kilogram, ubi Cilembu berada di kisaran Rp14 ribu.

Meski begitu, minat pembeli tetap tinggi, mulai dari kalangan bawah hingga menengah ke atas.

Selain rasanya yang manis alami, ubi Cilembu juga dikenal memiliki kandungan serat, vitamin A, dan karbohidrat yang cukup tinggi. Karena itu, banyak orang mulai menjadikannya sebagai camilan sehat pengganti makanan ringan instan.

Di rumahnya, proses pengolahan dilakukan secara sederhana namun teliti. Sebagian ubi dioven, sementara untuk yang lain dimasukkan ke kota -kotak penyimpanan, diletakkan di tempat kering agar rasa manisnya tetap terjaga.

“Kalau yang sudah dioven, dan disimpan di kulkas bisa tahan sekitar dua minggu,” jelasnya.

Menariknya, usaha yang baru berjalan sekitar tiga bulan itu justru mendapat respons cukup baik dari masyarakat Magelang.

Penjualannya juga banyak terbantu melalui media sosial, terutama TikTok. Meski penontonnya didominasi warga lokal, dampaknya terasa langsung terhadap penjualan.

“Promosi lewat TikTok ternyata bagus sekali. Sehari rata-rata bisa habis sekitar 20 kilogram,” akunya.

Ada pula pengalaman yang membuatnya merasa usaha kecilnya mulai berkembang, yaitu permintaan yang berulang dari para pelanggannya.

“Rasanya senang kalau ada pembeli datang dari jauh. Ada kepuasan tersendiri,” ujarnya.

Dalam menjalankan usaha, Pak Kar mendapat dukungan penuh dari sang istri, Rani, perempuan asal Brebes kelahiran 1988.

Mereka saling berbagi tugas. Pak Kar lebih banyak mengolah ubi, sementara di sela kesibukan membesarkan dua anak yang kini duduk di bangku SMP dan TK, Rani melayani pengantaran untuk para pelanggannya.

Usaha sederhana dari rumah di Borobudur itu kini menjadi bukti bahwa peluang bisa datang dari mana saja, bahkan dari sebuah ubi yang diolah dengan ketekunan dan kreativitas. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Hermanto
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Magelang, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.