Mohamad Yunus, Guru Non-ASN di Magelang yang Menyalakan Pendidikan dari PKBM hingga Pesantren
Mohamad Yunus, guru non-ASN asal Magelang, mengabdikan hidupnya mengajar di PKBM dan pondok pesantren, membuktikan bahwa ketulusan mendidik melampaui status formal.
MAGELANG – Sore hari di Kota Magelang bukan waktu beristirahat bagi Mohamad Yunus. Justru saat itulah langkah pengabdiannya dimulai.
Ia menyusuri ruang-ruang belajar, dari gedung pendidikan kesetaraan hingga lingkungan pondok pesantren. Di balik kesederhanaannya, tersimpan dedikasi panjang seorang guru non-ASN yang mengabdikan diri melampaui batas formalitas.
Momentum Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, menjadi refleksi tentang sosok seperti Yunus. Mereka mungkin tak selalu tampil di panggung utama pendidikan, tetapi kontribusinya nyata bagi mereka yang kerap luput dari sistem pendidikan formal.
Sejak 2022, Yunus aktif mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Permata Kota Magelang. Di sana, ia membimbing peserta didik dari beragam latar belakang, mulai dari siswa homeschooling hingga pelajar umum.
Pengabdiannya tidak berhenti di satu tempat. Setiap pekan, Yunus juga mengajar di sejumlah pondok pesantren, seperti Pondok Pesantren Selamat Depkes Kota Magelang, Al Maunah Tulung, Baity Qurany Nepak Kabupaten Magelang, Al Asnawi Salam Kanci, hingga Roudlotut Thullab Tempuran.
Di lembaga-lembaga tersebut, ia mengajar program Paket B dan Paket C, menjangkau peserta didik dengan usia, latar belakang, dan kondisi yang beragam.
“Menjadi guru itu bukan sekadar pekerjaan. Ini bentuk pengabdian. Saya ingin ilmu yang saya punya bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujar Yunus kepada TIMES Indonesia, Sabtu (2/5/2026).

Lahir di Magelang, 25 Oktober 1982, Yunus semula bercita-cita menjadi dokter. Namun perjalanan hidup membawanya ke dunia pendidikan, sebuah pilihan yang kemudian diyakininya sebagai panggilan hati.
“Awalnya saya punya cita-cita lain. Tapi setelah mulai mengajar, saya merasa ini jalan saya. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat siswa berkembang,” katanya.
Perjalanannya sebagai pendidik dimulai sejak 2014, dari membantu kegiatan ekstrakurikuler hingga akhirnya aktif mengajar di berbagai lembaga pendidikan nonformal.
Pengalaman panjang itu membentuk Yunus bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi juga pendidik yang memahami dinamika peserta didik dari berbagai latar belakang.
Mengajar di pendidikan kesetaraan bukan perkara sederhana. Ia harus menghadapi perbedaan karakter, usia, hingga tingkat pemahaman siswa dalam satu kelas.
“Tantangan terbesar itu karena latar belakang siswa berbeda-beda. Ada yang cepat paham, ada juga yang harus dibimbing pelan-pelan karena sudah lama tidak belajar,” ungkapnya.
Sebagai guru non-ASN, Yunus juga menghadapi persoalan klasik: kesejahteraan dan kepastian status kerja.
“Jujur, tantangan paling terasa itu soal kesejahteraan. Kadang honor yang diterima masih jauh dari cukup,” akunya.
Meski demikian, tanggung jawab yang diemban tetap setara. Ia mengajar, menyusun modul, hingga mengurus administrasi pembelajaran dengan profesional.
“Tugasnya sama seperti guru ASN. Tapi kesejahteraannya memang belum sebanding. Namun saya tetap berusaha profesional,” lanjutnya.
Di tengah keterbatasan, Yunus justru menemukan makna terdalam profesinya. Baginya, keberhasilan siswa adalah pencapaian terbesar.
“Buat saya, prestasi paling berkesan itu saat melihat siswa yang awalnya tidak percaya diri jadi lebih berani,” ucapnya.
Dalam proses belajar, Yunus memilih pendekatan santai dan komunikatif. Ia percaya suasana nyaman akan mempermudah siswa memahami materi.
“Saya biasanya mengajar dengan santai, diselingi diskusi dan contoh nyata. Kadang juga pakai humor supaya siswa tidak tegang,” katanya.
Lebih dari sekadar transfer ilmu, ia berupaya menanamkan kepercayaan diri kepada setiap peserta didik.
“Saya selalu bilang ke mereka, setiap orang punya potensi. Tinggal bagaimana kita mau berusaha dan percaya diri,” tambahnya.
Di Hari Pendidikan Nasional ini, Yunus menyimpan harapan besar bagi masa depan guru non-ASN. Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kesejahteraan dan peluang pengangkatan.
“Harapan saya, kesejahteraan guru non-ASN bisa lebih diperhatikan, dan kesempatan PPPK lebih terbuka serta adil,” tegasnya.
Ia juga berharap masyarakat memberi penghargaan yang setara kepada profesi guru, termasuk mereka yang mengabdi di jalur nonformal.
“Semoga profesi guru tetap dihargai. Karena di balik keterbatasan, banyak guru yang tetap berjuang untuk pendidikan anak-anak bangsa,” ujarnya.
Di sela kesibukannya, Yunus masih menyimpan mimpi besar: mendirikan sekolah berbasis keterampilan yang mampu memberi bekal nyata bagi masa depan peserta didik.
Sebelum perbincangan berakhir, ia menyampaikan pesan sederhana kepada para siswa.
“Jangan takut gagal. Terus belajar dan jangan menyerah. Masa depan itu ada di tangan kalian sendiri,” pungkasnya.
Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan, Mohamad Yunus menjadi potret bahwa pengabdian seorang guru tidak selalu diukur dari status, melainkan dari ketulusan mendidik. Semangat itu terus menyala, dari ruang kelas PKBM hingga lorong-lorong pesantren di Magelang.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

