TIMES MAGELANG, MAGELANG – Suasana di Panggung Borobudur Moon, kawasan Candi Borobudur, Magelang, mendadak gelap dan mencekam. Hanya siluet-siluet samar yang mencitrakan atmosfer sebuah kerajaan tua. Keheningan itu terpecah ketika seorang narator melangkah ke tengah panggung, menyuarakan kalimat berbahasa Jawa dengan nada lantang dan menghentak.
“Kahanan nyoto kang kanggo nalar ing dalang mawujudake cerito ono ing palenggahan tutur.”
Sebuah pengingat awal bahwa kisah yang akan dipentaskan bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah cerita yang mengandung hikmah, hikmah yang pahit untuk dikunyah, getir untuk dirasakan, dan saripati untuk ditelan.
Di layar videotron, relief Candi Borobudur perlahan menyala, menampilkan kisah Raja Maitribala. Panggung kemudian bertransformasi cepat mengikuti visual kerajaan. Raja Maitribala dan permaisurinya hadir di tengah istana, dikelilingi para dayang-dayang kerajaan.
Sendratari Maitribala pun resmi dimulai di Panggung Borobudur Moon, kawasan Candi Borobudur, Rabu (31/12/2025) malam, menjadi penutup tahun yang sarat refleksi tentang kepemimpinan dan pengorbanan.
Pementasan itu dipersembahkan oleh Museum Cagar Budaya (MCB) Borobudur dan diproduksi secara kolaboratif bersama Bengkel Seni Sasana Aji, Sanggar Sekar Wangi, serta Badracari Meta Production.
Sejak awal, pertunjukan ini dirancang bukan hanya sebagai sajian seni pertunjukan, namun sekaligus sebuah upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang terukir di relief Candi Borobudur melalui bahasa tari, musik, dan teater modern.
Dalam pengantar video bumper, penonton diajak sejenak merenung, siapakah sebenarnya pemimpin sejati? Jawaban itu kemudian dihadirkan melalui sosok Raja Maitribala, ia adalah seorang raja yang berani mengorbankan jiwa, raga, bahkan nyawanya demi keselamatan rakyatnya.
Pertunjukan ini seolah menjadi cermin, memperlihatkan teladan kepemimpinan yang berpijak pada welas asih dan pengorbanan, bukan pada kekuasaan semata.
Cerita Relief
Kisah Raja Maitribala yang diangkat dalam sendratari ini bersumber dari relief Candi Borobudur. Diceritakan, sang raja menjadi buruan bangsa raksasa yang dipimpin oleh Yakso.
Pemimpin Yakso memerintahkan anak buahnya untuk mencari Raja Maitribala, membunuhnya, memakan dagingnya, dan meminum darahnya. Perburuan pun dimulai, menebarkan teror di tengah masyarakat.
Dalam salah satu adegan, rombongan Yakso bertemu dengan seorang penggembala sapi. Di bawah intimidasi dan ancaman raksasa, sang penggembala akhirnya menunjukkan arah kerajaan tempat Raja Maitribala bersemayam. Isu perburuan itu pun menyebar luas, menimbulkan ketakutan di tengah rakyat, hingga akhirnya sampai ke telinga para biksu.
Para biksu kemudian menghadap Raja Maitribala, memperingatkan bahwa Yakso tidak menginginkan apa pun selain darah dan daging sang raja. Namun alih-alih melarikan diri atau mengerahkan pasukan, Raja Maitribala memilih jalan yang mengejutkan.
Di atas panggung, penonton disuguhi adegan dramatis ketika sang raja menyayat nadinya sendiri, darah mengucur sebagai simbol pengorbanan tertinggi demi rakyatnya.
Tak lama kemudian Yakso datang, dan dengan kejam memangsa Raja Maitribala. Adegan ini menjadi titik puncak pertunjukan, menghadirkan keheningan dan emosi mendalam di antara penonton.
Namun takdir berkata lain. Berkat welas asih dan kebajikan yang telah ia tanamkan, Raja Maitribala hidup kembali. Kebangkitan itu membuat Yakso terperangah, tak percaya bahwa sang raja yang telah dimangsanya ternyata hidup kembali.
Kesadaran pun tumbuh dalam diri Yakso. Ia akhirnya bersimpuh dan bersujud di hadapan Raja Maitribala, memohon untuk menjadi pengikutnya. Adegan ini menegaskan pesan utama pertunjukan adalah, welas asih memiliki kekuatan untuk menundukkan kekerasan, dan pengorbanan yang tulus mampu mengubah musuh menjadi seorang sahabat.
Pementasan ditutup dengan suasana epik. Narator kembali hadir, memberikan ilustrasi bahwa Raja Maitribala memiliki landasan kepemimpinan welas asih yang abadi hingga kini. Kalimat penutup, “Tanah Airku rindu Raja Maitribala,” menggema di seluruh area pertunjukan, sebuah refleksi tajam tentang kerinduan bangsa akan pemimpin yang mengedepankan pengorbanan dan kasih bagi rakyatnya.
Sebagai penutup yang mengharukan, seluruh pemain bersama penonton menyanyikan lagu “Tanah Airku” ciptaan Ibu Sud. Di bawah cahaya malam Borobudur, lagu itu dilantunkan dengan khidmat, menyatukan seni, sejarah, dan harapan.
Sendratari Maitribala pun bukan hanya menjadi pertunjukan akhir tahun, tetapi juga sebuah perenungan kolektif tentang makna kepemimpinan sejati bagi bangsa Indonesia. (*)
| Pewarta | : Hermanto |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |